Follow Me

Rabu, 17 Oktober 2012

SEBUAH TULISAN BODOH TENTANG JATUH CINTA.



Saya sedang jatuh cinta. Okeh ! It WAS funny. Ketawa deh. But it IS true. I’m in love, over and over again. With this person, a stranger who already stole my heart, completely.
Seberapa besar keberanian untuk jatuh cinta dibandingkan dengan rasa takut untuk kehilangan seseorang yang sedang dijatuhcintai ? Seberapa besar keberanian yang saya punya dibandingkan dengan keragu-raguan atau bahkan ketakutan untuk merasakan sakit ?
Kalau hidup ini adalah sebuah happy ending fairy tales, maka saya akan menjadi orang yang paling putus asa tentang kisah cinta yang berakhir bahagia. Karena itu hanyalah dongeng pengantar tidur yang dibuat indah, untuk mengantarkan anak-anak yang penuh imajinasi namun masih rapuh menuju dunia mimpi. Tapi untuk sebuah kenyataan utamanya tentang jatuh cinta, realitanya tidak demikian.  Tidak seindah dongeng pengantar tidur.
Saya lebih suka menganalogikan kehidupan sebagai sebuah pertunjukan., di mana saya adalah pelakon utama. (of course it is my life and my show). Dan jatuh cinta adalah salah satu scene menarik di dalam “pertunjukan” itu. Jika saya ingin “pertunjukkan” saya menarik, maka saya harus berani mengambil resiko untuk menampilkan scene dramatis, tokoh-tokoh antagonis,  dan konflik untuk mencapai klimaks.
Karena ini hanyalah tulisan yang bodoh, jangan mengekspektasikan terlalu besar tentang tulisan yang bagus, mengharukan atau penuh inspirasi. Ini hanyalah tulisan bodoh. 
Tentang jatuh cinta, haruskah saya mengatakan bahwa  setiap napas dan waktu menjadi penyemangat untuk menjadi pembuktian ?  Setiap bisikan dari kiri dan kanan seolah ingin mengatakan kalian hanyalah bisikan setan yang tak perlu dihiraukan. Keberanian, ketakutan, harapan , keputusa-asaan, perjuangan, pengorbanan.
Jatuh cinta hanyalah sebuah perasaan. Perasaan aneh yang tidak akan mampu dijelaskan mengapa ataupun bagaimana. Hanya bisa dirasakan. Seperti itu, bukan ? Yang terpenting dari sebuah proses jatuh cinta adalah setelah jatuh cinta itu sendiri berlalu. Bagaimana membuat jatuh cinta itu terjadi lagi setiap harinya.
Bisakah kita jatuh cinta pada orang yang sama SETIAP HARI ? Just like our first felling of falling in love ?  Kembali lagi jatuh cinta adalah sebuah keberanian untuk mampu mengambil resiko. Dan kembali jatuh cinta kepada orang yang sama setiap harinya adalah sebuah keberanian untuk melupakan keburukan yang terjadi hari kemarin dan mulai mencintainya lagi dari awal. Seperti saat pertama kali rasa cinta itu muncul. Easy to say, hard to do.
Nah, seperti itulah. Ini hanyalah tulisan bodoh tentang seseorang yang sedang jatuh cinta, ingat ? Boleh percaya boleh juga tidak. Saya sendiri sedang mengumpulkan keberanian dan tekad hati untuk jatuh cinta kepada orang yang sama every single day because I’m in love with him. As simple as that. :)

Sabtu, 30 Juni 2012


Pursuit of Happiness (A Human Right to Be Happy and Pursue the Happiness)

It was at that time that I thought about Thomas Jefferson writing that Declaration of Independence. Him saying that we have the right to life, liberty, and the pursuit of happiness. And I thought about how he knew to put the 'pursuit' in there, like no one can actually have happiness. We can only pursue it.~ Christopher Gardner

Pernah nonton film “Pursuit of Happyness” ? Filmnya Will Smith dan anaknya Jaden Smith (anak kandung Will Smith). Film ini kisah nyata dari Chris Gardner, loh. Sinopsisnya ga usah diceritain, yah ? Nonton ajah filmnya bagus dan inspiratif.
Nah ! Quote di atas sendiri di kutip dari pidato Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat yang dikenal sebagai Pencetus Deklarasi Kemerdekaan sekaligus Founding Father of USA (selengkapnya silahkan Googling tentang beliau).
Terus terang, saya tidak tahu arti kata PURSUIT. Menurut kamus (yang entah pengarangnya siapa) Pursuit (pe’sju : ) 1 pengejaran; 2 pekerjaan. Sedangkan menurut Google Translate Pursuit artinya pengejaran. Sedangkan pursue (kk) berarti mengejar.
So, apa yang menarik ? Film Pursuit of Happyness dan pidato Thomas Jefferson ini, kurang lebih mengangkat topik bahwa semua orang berhak untuk bahagia.  Menjadi bahagia adalah hak asasi semua orang. Tidak terkecuali. Mau itu dia kaya, miskin, cacat, sempurna, janda, duda, gadis, jejaka, semua berhak untuk sebuah “Pengejaran Kebahagiaan” untuk hidupnya. Tidak seorangpun berhak untuk melarang ataupun membatasi kebahagiaan seseorang. Hak Asasi Manusia dimiliki oleh siapa saja, sepanjang ia bisa disebut sebagai manusia.
Saya sedikit unappreciated orang-orang yang memandang rendah tentang hak seseorang untuk bahagia. Saya pibadi pernah ngalamin. And guess what ? Itu justru jadi motivasi hebat untuk menjadi lebih baik. In the end, this person is the mostly one I thanking for.
In my very very humble opinion, kebahagiaan tidak pernah datang dengan sendirinya. Kita lahir pertama kali bahkan dengan tangisan yang identik dengan rasa sedih bukan dengan tawa atau senyuman (I dare to bet, ga ada bayi yang lahir sambil mesem-mesem ke bidan yang nolong dia brojol ke dunia) Kebahagiaan butuh usaha untuk mengejar. Karena kepasifan seseoranglah yang menimbulkan ketidakpuasaan akan dirinya, yang berujung of course ketidakbahagiaan. Ketika kita berusaha melakukan pengejaran untuk kebahagiaannya, disitulah kita belajar untuk menjadi bahagia. I repeat, this is my very very humble opinion.
No one can actually have happiness. We can only pursue it. J

Rabu, 23 Mei 2012

JIKA AKU







Jika aku adalah kesunyian, maukah kau berdiam di sana ? Membentuk kesunyian baru yang bisa menimbulkan keriuhan ?  Hingga kita tidak perlu terus berdiam diri dalam diam yang menyakitkan.

Jika aku adalah sebuah suara, maukah kau mendengarkan hingga akhir ? Hingga kita akhirnya bisa memahami satu sama lain ? Hingga kita tidak perlu terus terjebak dalam kesalapahaman.

Jika aku adalah kebohongan, maukah kau mempercayainya? Maukah kau menemukan kejujuran yang terus terbungkus di dalam sebuah kebenaran? Sehingga kita tidak perlu lagi bertanya mengapa ?

Jika aku adalah hitam dan putih, maukah kau mewarnainya dengan bias-bias warna kehidupan ? Sehingga kita tidak perlu jenuh berjalan bersama.

Jika aku adalah air mata, maukah kau tersenyum padaku ? Sehingga air mataku tidak perlu menjadi beban yang menyesakkan. Dan kita hanya bersama dalam tawa.

Jika aku adalah waktu yang berjalan lambat, maukah kau tetap bersabar menanti tiap detiknya ? Sehingga penantian tidak lagi berarti sia-sia.

Jika aku adalah keputusasaan, maukah kau menjadi sebuah jalan keluar ? Sehingga kita bisa kembali merasakan kemenangan dari tiap masalah.

Jika aku adalah sebuah pengertian, maukah kau memahamiku ? Memahami setiap detilnya, sehingga tidak perlu ada kata salah ataupun keliru ? Sehingga kita selalu menjadi kata yang sempurna.

Jika aku adalah kebebasan, maukah kau menggenggamku erat ? Sehingga kita tidak saling terbang menjauh dan terhempas di suatu tempat yang asing ? Agar kita tetap bersama dalam sebuah kelapangan .

Jika aku adalah gelap malam, maukah kau menjadi sebuah terang yang menjadi penuntun ? Gelap dan terang yang menyatu adalah sebuah harapan. Begitu bukan ?

Jika aku adalah sebuah keyakinan, maukah kau percaya padaku hingga akhir ? Sehingga tidak perlu ada keraguan yang memisahkan kebenaran yang rapuh itu.

Jika aku adalah kenangan, maukah kau menyimpannya dengan abadi ? Agar kebahagiaan menjadi penyembuh dan kepahitan menjadi pelajaran. Sehingga kita menjadi lebih tangguh.

Jika aku adalah sebuah pertanyaan, maukah kau tetap mencari tahu ? Hingga ketika kita menemukan jawaban, kita akan mengerti apa arti kita. Ya ! Kau dan aku.

Jika aku adalah sebuah perjalanan, , maukah kau menjadi kereta yang berjalan cepat menempuh bermil-mil untuk menuju pada sebuah tujuan ? Sebuah tujuan yang mempertemukan yang terpisah oleh jarak.

Jika aku adalah sebuah kerinduan, maukah kau tetap berdiam didalamnya? Karena aku menyukai saat aku merindukanmu. Saat itulah aku yakin bahwa selalu ada rasa yang tersimpan untukmu.

Jika aku adalah diriku, maukah kau tetap mencintaiku ? Menjadi bagian hidupku sebagaimanapun aku ? Karena aku hanyalah aku .


Sabtu, 24 Maret 2012

Tentang Pendakian



            Ini tentang sebuah pendakian. Sebuah pendakian rumit menuju sebuah puncak.
Dia adalah seorang lelaki miskin yang tinggal di sebuah desa di lembah yang subur. Dia telah lama mengamati sebuah gunung tinggi dengan puncak yang tidak kelihatan di Selatan desanya. Konon, barangsiapa yang berhasil mencapai puncak gunung itu akan menjadi kaya raya dan memperoleh ketenaran. Bahkan terdengar desas-desus, siapa yang pertama mampu mencapai puncak gunung itu akan menguasai seisi pulau.
Sang lelaki menatap bajunya yang penuh koyakan dan usang. Suatu tekad mulai terbangun jauh di dalam hatinya. Ia menatap teman-teman sepermainannya yang telah lebih dahulu berhasil. Ia menatap dirinya sendiri dan kecewa. Betapa bertahun-tahun berlalu, dan dia tetap tak punya sesuatu untuk dibanggakan.
Maka suatu pagi, dia beranjak dari tidurnya dan menyiapkan segala sesuatunya. Dia sudah memutuskan untuk menjadi seorang pendaki gunung keberhasilan itu. Dia mulai berpamitan dengan orang-orang di sekitarnya. Ibunya tidak mengatakan apa-apa, pun tanpa air mata. Matanya hanya menyiratkan doa penuh harapan dan semangat kepada sang anak. Sang ayah memberikan tepukan di bahu sang Lelaki sambil mengucap semoga berhasil. Gadis sang Lelaki tersedu, “Aku akan menunggumu di sini sampai engkau pulang.” Sembari menggegam tangan sang Lelaki.
Sang lelaki pun berangkatlah dengan tidak menoleh lagi ke belakang. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Dia menatap gunung yang berdiri tinggi dengan mata berapi dan berteriak dalam hatinya,”Aku akan menaklukkanmu. Apapun caranya !”.
Gunung itu sangatlah tinggi, curam dengan batu-batu yang tajam. Sepanjang jalan dipenuhi semak belukar berduri dan ular-ular beracun. Namun demikian, sang Lelaki belum menyerah. Sepanjang jalan dia bertemu sesama pendaki. Mereka menapaki jalan bersama-sama.
Semakin jauh perjalanan, keserakahan mulai muncul di dalam hati sang Lelaki. Di sepanjang perjalanan menuju puncak, mereka menemukan bongkahan-bongkahan besar emas dan batu-batu permata. Timbul pikiran jahat dalam hati sang Lelaki. Dia pun mencelakakan teman-teman seperjalanannya. “Aku tidak mungkin mencapai puncak bersama mereka. Ini harus menjadi milikku sendiri.” Bisiknya dalam hati. Lalu dia mendorong teman seperjalanannya yang telah setia menemaninya ke dalam jurang yang didapatinya dalam perjalanan. Dia tertawa puas ketika didapatinya temannya tak lagi terdengar.
Gunung itu bukanlah gunung yang mudah untuk didaki. Semakin tinggi,semakin berat rintangan yang menanti sang Lelaki. Dia mulai lelah. Dia mulai teringat keluarga dan gadisnya. Merindukan kehangatan yang dirasakannya bersama mereka. Namun dia mengabaikannya dan mulai meneruskan perjalanan. 
Perjalanan menuju puncak yang terlalu jauh itu membuat nurani sang Lelaki mulai terkikis. Dia mulai melupakan kasih sayang dan cinta. Tidak ada lagi kepedulian tentang orang-orang yang mencintainya. Dia hanya memikirkan kebahagiaan yang akan didapatkannya ketika ia tiba di puncak nanti. Dia mulai melupakan tentang kerinduan.
Suatu masa, dia mendengarkan kabar dari burung-burung yang melepas lelah di atas ranting-ranting pohon. Orang-orang di bawah sana mulai mengeluk-elukkan dia. Bahwa dia telah setengah perjalanan menuju puncak. Dia begitu bahagia dan bangga akan dirinya. Dia mendengar gadis-gadis kota pun bahkan mulai menaruh perhatian padanya. Dia semakin pongah. Dia telah melupakan orang-orang yang dahulu mencintainya. Sama sekali. Kejahatannya pun semakin menjadi. Dia menjatuhkan siapapun yang dia temui dalam perjalanan dan merebut emas dan batu berlian yang mereka temukan. Dia semakin dekat kepada puncak. Rasa berpuas diri semakin membuncah di dadanya.
 Hari berlalu dan puncak tak lagi jauh. Sang Lelaki mulai kelelahan. Beban emas dan batu berlian di punggungnya begitu membebani. Hatinya pun telah membatu tentang kasih sayang. Pendakian ini telah membekukan hatinya untuk mengasihani dan mencintai. “Sedikit lagi.”, katanya. Sang lelaki telah begitu kelelahan. Kakinya melepuh dan berdarah. Bajunya pun semakin koyak tergerus bebatuan dan semak. Tetapi dia tetap mendaki. Mendaki menuju puncak.
Di sebuah hari yang cerah dengan langit yang begitu biru dan kicauan burung, berakhirlah pendakian sang Lelaki. Dia tiba di puncak yang selama ini diimpikannya. Dia menatap kagum ke sekelilingnya. Dia dapat melihat seluruh pulau bahkan laut dan pulau seberang. Tapi dia begitu kesepian  di atas sana. Dia hanya seorang diri. Sekejap, dia teringat orang-orang yang mencintainya di bawah sana. Namun sebuah lonjakan kecil timbul dalam hatinya. “Hey.. aku berhasil…. Aku tiba di puncak…!!!!”, dia berteriak lantang. Suaranya menggema nyaring hingga ke lembah.
Sang lelaki terdiam sesaat kemudia dia mulai melompat –lompat dan menari kegirangan. Dia melupakan segalanya. Namun tiba-tiba, gendongannya yang berisi bongkahan-bongkahan emas dan batu berlian yang susah payah dibawa dan diperjuangkannya sepanjang perjalanan terjatuh ke dalam jurang tak jauh dari situ. Sang lelaki berusaha meraihnya.
Terlambat. Gendongannya jatuh kedalam jurang yang amat dalam. Sang lelaki, tanpa berpikir panjang mendorong dirinya mencoba merengkuh kembali kekayaannya. Dia ikut terjatuh kedalam jurang yang dalam itu.
Di dasar jurang, sang Lelaki diambang kematian. Dia mulai teringat kembali dengan orang-orang yang mencintainya. Ibunya, ayahnya, dan gadisnya yang menunggunya dengan setia. Dia memejamkan mata dan wajah-wajah orang yang mencintainya terbayang dibawah pelupuk matanya. Dia menangis. Tangannya menggenggam lemah emas dan batu berlian yang mencelakakannya. Semuanya telah sia-sia.
Tidakkah kita becermin ?? Bahwa kitalah sebenarnya sang Lelaki malang ini ???

Minggu, 18 Maret 2012

#NoComplaintWeek Day 7


18 Maret 2012. Ahh.. Hari terakhir. Tujuh hari rasanya cepat berlalu yah. Teringat hari pertama ikutan #NoComplaintWeek. Ada yang ngejek, ada juga yang mendukung. Bahkan dipertengahan minggu pun masih ada yang ngeremehin. Tapi seneng deh bisa bertahan. Agak menyesal juga sih umbar-umbar kalo ikutan #NoComplaintWeek. Kalo ga ada yang tahu, pasti godaannya lebih gede. XD
Hari ini, setelah 7 hari menahan napsu untuk mengeluh, cobaan untuk mengeluh rasanya mulai terasa lagi. Tapi berhubung sudah ‘terlatih’ untuk menahan, semuanya bisa dilawan dengan senyuman. Mulai bisa mengabaikan hal-hal sepele yang bisa menjerumuskan ke jurang per-keluh-an. (halahh..bahasa apaan tuh?! XD ).  
                Tujuh hari komitmen sudah berlalu. Besok tidak ada lagi hastag #NoComplaintWeek di status BBM. Tidak ada lagi #NoComplaintWeek  wara-wiri di timeline. Tapi apakah itu artinya sudah berakhir ? Tentu saja tidak ! Ini sebenarnya baru permulaan. Permulaan untuk tidak mengeluh selama  41 minggu kedepan. Bahkan untuk seterusnya.
                Sebagai manusia, musatahil rasanya jika tidak pernah mengeluh sama sekali.  Masalah pasti selalu ada, dan mengeluh tidak akan terhindarkan. Tapi perlukah mengeluh untuk hal-hal yang sama sekali sepele ataukah mengeluh untuk hal-hal yang tidak bisa kita ubah ? Macet atau cuaca panas misalnya. Selama seminggu ini saya berusaha untuk menikmati hal-hal sepele yang tidak bisa saya hindari dan keluhan pun bisa saya hindari. Jadi seperti itulah.
                Satu hal yang saya pelajari  sejak dulu adalah, mengeluh hanya membuat kita tampak sebagai orang yang lemah dan tidak tegar. Membuat kita seperti tidak mampu untuk menyelesaikan sesuatu. Saya juga memperhatikan, bahwa orang yang suka mengeluh menjadi pribadi yang tidak menyenangkan (buat saya pribadi sih).
                Tujuh hari # NoComplaintWeek, mengajarkan saya untuk bersyukur dan lebih bersyukur lagi untuk segala sesuatu yang sudah saya peroleh dalam kehidupan saya.  Memahami bahwa apa yang saya alami masih jauh lebih baik dibandingkan orang lain, dan rasanya konyol kalau harus mengeluh.
                Terima kasih untuk Om Hendry Manampiring yang sudah memfasilitasi  #NoComplaintWeek . Seru dan penuh insipirasi. Menyenangkan bisa menelaah hidup dari sisi yang sederhana seperti tidak mengeluh. Yah, seminggu ini adalah pemanasan untuk minggu-minggu berikutnya dan seterusnya, untuk melihat perspektif hidup tidak hanya dari sisi negative, tapi mencoba menemukan sisi positif di balik sisi negative itu.  
                He who avoids complaint he invites happiness ~ Abu Bakr
                Sekian. Selamat berjuang untuk tidak mengeluh. J

Sabtu, 17 Maret 2012

#NoComplaintWeek Day 6


17 Maret 2012.  Wah ! Sudah hari keenam. Prestasi tersendiri saya bisa sampai pada hari keenam. Proud of myself !
Hari Sabtu, yang bagi sebagian orang adalah weekend yang artinya libur. Buat saya sama ajah kaya hari biasa. Weekend buat saya mulainya pukul 14.00 waktu jam pulang kantor. Pertama kali tahu kalo Sabtu kantor saya tetep masuk kantor, ngeluh sih. Tapi lama-lama enjoy juga. Soalnya Sabtu identik dengan mati lampu. Mending di kantor, bisa nonton tipi dan ga kepanasan di dalam ruangan ber-AC.
Jadi, apa kabar dengan #NoComplaintWeek hari keenam ini ? Hmm.. biasa ajah sih. Mungkin kaya kata Om Hendry, sudah terbiasa selama 5 hari mengurangi keluhan jadinya bisa “tegar” buat hadapi setiap masalah. Hari ini tidak ada yang cukup berat untuk dikeluhkan. Syukurlah.
Selama 6 hari ini mengikuti project #NoComplaintWeek, saya menemukan beberapa hal. Salah satunya adalah kabar baik bahwa selama 6 hari #NoComplaintWeek berat badan saya bisa naik 1 kg !! FYI sudah 3 bulan terakhir saya berusaha menaikkan berat badan. Dan hasilnya konstan malah sering turun lagi. Sesuatu yang bisa saya simpulkan adalah sebuah masalah diciptakan bukan untuk dikeluhkan, tapi untuk diselesaikan. Dengan mengeluh, hati jadi mumet nafsu makan terganggu (buat saya sih). Tanpa keluhan saya hepi dan berat badan naik. Yey !!
Hal lain yang saya pelajari adalah, postingan temen-temen seperjuangan yang ikutan #NoComplaintWeek. Kalo dipikir-pikir sih, masalah dan keluhan saya masih sangat sepele dibandingkan temen-temen yang lain. Jadi apa alasan saya untuk mengeluh ? Tidak ada ! Masalah dan tantangan hidup pasti selalu ada, tapi satu hal yang saya yakini adalah Tuhan tidak pernah memberikan cobaan yang lebih dari kekuatan umat-Nya. Jika saya menghabiskan waktu untuk mengeluh dan bukannya menyelesaikan masalah maka saya akan menjadi seseorang yang lemah.
Jadi, untuk apa mengeluh, jika kita yakin bahwa kita sebenarnya mampu ?? Selamat berjuang di #NoComplaintWeek hari terakhir besok. Untuk memperbaiki diri bukan ditentukan oleh orang lain tapi diri sendiri. Tetap semangat ! Sekian. J  

Jumat, 16 Maret 2012

#NoComplaintWeek Day 5



16 Maret 2012 #NoComplaintWeek sudah sampai pada hari yang kelima. Wuaahh !! Tidak terasa. Hari kelima ini, cobaan sudah dimulai bahkan sejak belum bangun tidur.
Dini hari, terbangun gara-gara bunyi hujan. Yang sempat terpikir adalah, apa kabar saya yang harus ke kantor naek motor tanpa jas hujan ?? Tapi sudahlah! Anggap saja tantangan untuk #NoComplaintWeek  hari kelima. Jadilah, berbekal jaket tebal menembus hujan. Lucky me, hujan berubah gerimis waktu saya keluar dari rumah sampai tiba di kantor. Ini efek bersyukur dan tidak mengeluh pagi-pagi, iya kan? :D
Sore hari mau masak nasi, liat beras tinggal segaris, teringat kejadian yang harusnya bikin keluhan massal di kantor. Beberapa hari belakangan, di kantor lagi heboh tentang “Tunjangan Beras”. Teman-teman kantor sudah berekspektasi rapelan tunjangan beras selama 17 bulan ini akan berjumlah ratusan ribu. Apalagi ada kabar ada kenaikan tunjangan. Jadi deh, trending topic yang dinanti-nantikan. Tiba-tiba ada teman yang datang ngasih kabar, tunjangan beras ini cuma Rp7000,- per bulan dan cuma dibayarkan selama dua bulan bagi kami kami yang masih berstatus CPNS. Jadi tunjangan beras yang saya terima selama 2 bulan adalah Rp14.000,-. Karena penasaran, saya nge-googling tentang tunjangan beras ini. Dan dapat Permenkes-nya ftp://ftp1.perbendaharaan.go.id/peraturan/perdirjen/2012/PER_11_PB_2012.pdf.  Sedangkan harga beras untuk IR 46 sendiri di pasaran berkisar Rp8.000,- sampai Rp8.500,-. Cukup ? Relatif ! Yah, bersyukur ajah deh (bahkan sempat ngakak). Syukur-syukur masih dapat, masih bisa makan tiga kali sehari, yang penting semua yang didapatkan halal. Bahkan sempet terharu, dulu orang tua saya juga banting tulang demi beras buat makan anak-anaknya. Gini toh, rasanya.Dan orang tua saya tidak pernah mengeluh. :').
Hari kelima #NoComplaintWeek, tiba-tiba kangen keluarga, kangen temen-temen kampus dan suasana kampus. Nasib perantau yang jauh dari orang-orang yang yang disayang dan menyayangi. Dan teringat kalau baru ajah putus. Hoaahh ! Bahkan tidak sempat galau soal itu sama sekali. #NoComplaintWeek was the best move on step, ever ! Dengan tidak mengeluhkan apa yang sudah terjadi di masa lalu, saya bisa bangkit dan tetep hepi. Nah, yang terjadi terjadilah.  Mengeluh tidak akan mengubah apa yang sudah terjadi. Sekian untuk hari ini. Masih tersisa dua hari. Semoga tetap semangat.  J